saat lebaran, di Indonesia ada tradisi jabat tangan,

termasuk antara pria-wanita yang bukan muhrim

(bahkan sampai cium tangan). Bagaimana

    sebaiknya kita menyikapinya?

      Marilah kita simak petuah/fatwa dari Abdul Halim

    1. Abu Syuqqah dan Syaikh Yusuf Qardhawi.

      Abu Syuqqah menyatakan dalam Kebebasan Wanita, Jilid 2, hlm. 120-122:

      Dalam hal ini, kita dapat membandingkan antara menghindarnya Rasulullah saw. dari berjabatan tangan dengan kaum wanita sewaktu melakukan bai’at dengan beberapa peristiwa ketika Rasulullah saw. menyentuh beberapa orang wanita.

      Pada kondisi pertama, Rasulullah saw. menghindar dari berjabatan tangan yang merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk menyentuh yang mempunyai arti tertentu. Hal seperti itu sering terjadi pada diri Rasulullah saw. mengingat banyaknya kaum kaum laki-laki dan wanita yang ingin bertemu dengan beliau juga mengingat beragamnya acara untuk melakukan jabatan tangan, mulai menyampaikan ucapan selamat dalam bentuknya yang paling sempurna, sampai pada mohon doa dan mengharapkan keberkahan dengan cara menyentuh tangannya yang mulia untuk berbai’at masuk Islam. Jika Rasulullah saw. menghindari berjabatan tangan pada kondisi ini, … tidak harus berarti bahwa Rasulullah saw. menghindar dari semua bentuk kondisi [sentuhan dengan wanita] karena bisa jadi ada tujuan lain sehingga menyentuh wanita mewujudkan beberapa keperluan yang sifatnya jarang pada satu sisi, atau dengan wanita-wanita yang dengan mereka itu dijamin aman dari fitnah pada sisi lain.

      Artinya, bahwa Rasulullah saw. tidak merasa aman dari fitnah pada kondisi yang pertama [yaitu sewaktu bai’at] bersama dengan wanita umum selain juga tidak ada alasan yang penting untuk berjabatan tangan. Sementara beliau mendapat alasan yang patut pada kondisi kedua, di samping banyaknya Rasulullah saw. berbaur dengan Ummu Haram dan saudaranya Ummu Sulaim (wanita pertama adalah bibi pesuruh Nabi saw., Anas, sementara wanita kedua adalah ibu Anas sendiri). Demikianlah Rasulullah saw. merasa aman dari fitnah bersama Ummu Haram, Ummu Sulaim, dan sejumlah wanita lainnya. Ditambahkan lagi bahwa menghindarnya Rasulullah saw. berjabatan tangan dengan kaum wanita ketika melakukan bai’at tidak berarti bahwa jabatan tangan dengan kaum wanita diharamkan secara mutlak. Selain itu, dalil-dalil yang ada pun menunjukkan kekhususan, sebab Rasulullah saw. mengatakan “aku tidak mau berjabatan tangan dengan kaum wanita” menggunakan dhamir mufrad.

      Hafizh Haitsami dalam bab “Dalil-dalil Mengenai Kekhususan bagi Rasulullah saw.” mengemukakan dua hadits berikut: “Dari Abdullah bin Umar dikatakan bahwa Rasulullah saw. tidak mau berjabatan tangan dengan kaum wanita pada waktu bai’at.” (HR Ahmad) “Dari Asma binti Yazid dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan kaum wanita.’” (HR Ahmad) (Majma az-Zawa’id, Kitab: Tanda-tanda kenabian, jilid 8, hlm. 266.)

      … Hal itu dapat kita artikan bahwa berjabatan tangan secara umum tidak disenangi oleh Rasulullah saw. sebagai penutup jalan (saddudz-dzara’i) guna dijadikan ajaran dan syariat bagi umatnya. Hal ini dikuatkan lagi oleh pendapat para ahli ushul fiqih yang mengatakan bahwa saddudz-dzara’i menunjukkan yang terbaik, bukan mewajibkan.

      Menurut penulis, kita akan menjadi golongan orang-orang yang baik dalam mengikuti jejak Rasulullah saw, jika kita menghindarkan jabatan tangan dan menyentuh wanita pada kondisi-kondisi umum. Artinya, kita baru menyentuh wanita (berjabatan tangan) jika benar-benar [yakin] aman dari fitnah serta ada alasan yang patut, umpamanya apabila berjabatan tangan itu merupakan sarana untuk mempererat hubungan dan berbagi perasaan yang tulus antara sesama orang mukmin, seperti jabatan tangan antara karib kerabat dan teman-teman dekat pada acara-acara tertentu, khususnya seperti mengucapkan selamat bagi seseorang yang baru datang dari perjalanan jauh; berjabatan tangan untuk menghormati dan mendorong orang berbuat baik [misalnya sewaktu lebaran untuk bermaaf-maafan atau pun berkenalan]; atau untuk menyampaikan rasa belasungkawa dan turut berduka-cita karena sesuatu musibah.

      Sementara itu, Yusuf Qaradhawi menyatakan dalam Fiqih Wanita (Bandung: Jabal, 2007), hlm. 123, 125-126:

      Sebagian ulama sekarang ada yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita dengan mengambil dalil riwayat Thabrani dan Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda:

      Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.

      Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalil:

      1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih.”

      Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya atau terdapat cacat yang samar. Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun ulama terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.

      2. Ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah mengatakan bahwa pengharaman itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dalil qath’i yang tidak ada kesamaran padanya, seperti Al-Qur’anul Karim serta hadits-hadits mutawatir dan masyhur. Adapun jika ketetapan atau kesahihannya sendiri masih ada kesamaran, maka hal itu tidak lain hanyalah menunjukkan hukum makruh, seperti hadits-hadits ahad yang sahih. Maka bagaimana lagi dengan hadits yang diragukan kesahihannya?

      3. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas [alias tidak qath’i]. Kalimat “menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya” itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. … [Lihat artikel “Haramkah menyentuh lawan-jenis non-muhrim?“.]

      Barangsiapa menganggap bahwa lafal au laamastum an-nisa [menyentuh wanita] mencakup sentuhan biasa meskipun tidak dengan bersyahwat, maka ia telah menyimpang dari bahasa Al-Qur’an, bahkan menyimpang dari bahasa manusia [orang Arab] sebagaimana yang sudah dikenal. Sebab, jika disebutkan lafal al-mass (menyentuh) yang diiringi dengan [penyebutan lafal] laki-laki dan perempuan, maka tahulah dia [si orang Arab] bahwa yang dimaksud ialah menyentuh dengan bersyahwat, sebagaimana bila disebutkan lafal al-wath’u (yang asal artinya “menginjak”) yang diikuti dengan kata-kata laki-laki dan perempuan, maka tahulah ia bahwa yang dimaksud ialah al-wath’u dengan kemaluan (yakni bersetubuh), bukan menginjak dengan

Iklan